(Foto: Wagub Ummi Rohmi saat menghadiri PIT PERABOI XXVI 2023 di Hotel Merumata Senggigi)


Lombok Barat - Reportase7.com

Pada Musyawarah Nasional Persatuan Ahli Onkologi RSUD Provinsi NTB memiliki berbagai kemajuan saat ini. Salah satunya terbangunnya Gedung IGD Terpadu yang menjadi pelayanan utama untuk mempersiapkan Pusat Onkologi Terpadu.

Pusat ini tentunya akan menjadi salah satu Layanan Unggulan yang tentunya akan menjadi daya tarik tersendiri.

Dalam hal ini menjadikan kesungguhan pemerintah provinsi Nusa Tenggara Barat dalam pembangunan kesehatan diharapkan dapat bersinergi dengan banyak pihak. (19/03/2023)

Musyawarah Nasional Persatuan Ahli Onkologi yang diadakan di Hotel Merumatta, Senggigi, Lobar, Jum'at (17/03). Wakil Gubernur dalam sambutannya mengatakan, agar Peraboi dapat berkontribusi di NTB.

"Mudah mudahan PERABOI dapat berkontribusi dalam dunia kesehatan di NTB dan berikhtiar wujudkan NTB sehat dan Gemilang," ujarnya.

Ummi Rohmi mengatakan, deteksi dini kanker yang telah dapat dilakukan di Puskesmas didukung oleh Posyandu Keluarga sebagai upaya promotif dan preventif yang didalamnya terdapat sosialisasi kesehatan komprehensif hingga pelayanan kesehatan pada seluruh anggota keluarga.

Ketua panitia PIT PERABOI XXVI 2023, dr. Ramses Indriawan menambahkan, Peran Bedah Onkologi Dalam Pelayanan Kanker di Era JKN Satu Tarif dijadikan sebagai tema untuk bisa mengantisipasi perubahan regulasi dalam meningkatkan profesionalisme melayani bedah onkologi.

"Kegiatan ini berupa Workshop, Symposium dan E-Poster serta Musyawarah Nasional Luar Biasa yang akan berlangsung tiga hari," jelasnya.

Kemudian Ketua PERABOI dr. Walta Gautama, Sp.B., Subsp. Onk (K), mengatakan, pertemuan di Lombok spesial karena merupakan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) pertama yang diselenggarakan didaerah Nusa Tenggara.

"Masih banyak masalah dalam hal pentarifan tindakan bedah onkologi yang di-cover oleh BPJS," ujarnya.

Ditambahkannya, sampai saat ini sebagian besar pasien kanker yang menemui dokter bedah onkologi datang pada stadium III atau IV. Kasus-kasus terlambat seperti ini seringkali membutuhkan tindakan pembedahan yang kompleks dan terkadang membutuhkan lebih dari satu tindakan dalam sekali operasi.

Hal ini berpotensi menjadi masalah karena dalam skema pentarifan tindakan bedah onkologi disistem BPJS. Ia berharap tindakan bedah komplek yang masih belum terakomodir di BPJS dapat diurai dalam pertemuan ini.

Pewarta: Fitri
Editor: R7 - 01