Sepuluh Hari Pasca Kebakaran Pasar Pringgabaya, Pedagang Menjerit, Pertanyakan Ketepatan Sasaran Dana Stimulan

Lombok Timur - Reportase7.com

Sudah sepuluh hari berlalu sejak api menghanguskan Pasar Pringgabaya, namun nasib para pedagang yang terdampak kini berada di titik nadir. Kehilangan modal usaha dan terhentinya sumber penghasilan utama membuat kehidupan keluarga para pedagang terancam, Kamis 07 Mei 2026.

Di tengah situasi pelik ini, penyaluran dana stimulan pada Selasa, 5 Mei 2026 kemarin justru memicu polemik karena dinilai salah sasaran.

Banyak pedagang yang menjadi korban langsung kebakaran justru mengaku tidak menerima bantuan tersebut. Sebaliknya, informasi di lapangan menyebutkan bantuan justru mengalir kepada pihak-pihak yang tidak terdampak.

Meski gelombang amarah sempat memicu rencana unjuk rasa besar-besaran, para pedagang menunjukkan sikap dewasa dengan memilih jalur persuasif. Bersama Gerakan Elemen Masyarakat Peduli Rakyat (GEMPUR), perwakilan pedagang melakukan audiensi langsung ke Kantor Pemerintah Kabupaten Lombok Timur pada hari ini untuk menyuarakan aspirasi mereka.

Dalam pertemuan tersebut, rombongan diterima oleh Asisten Daerah (Asisten) I dan Asisten II Setda Lombok Timur. Sementara itu, Bupati Lombok Timur dilaporkan berhalangan hadir karena sedang mengikuti agenda bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Ketua GEMPUR, Ust. Ahmad Asdaruddin, menegaskan bahwa pilihan jalur dialog ini diambil untuk menjaga wibawa pemerintah daerah, namun dengan catatan tegas.

"Kami tetap mengedepankan dialog demi menjaga wibawa Pemkab Lombok Timur. Namun jika aspirasi ini diabaikan, kami tidak punya pilihan lain (selain aksi)," tegas Ust. Asdaruddin.

Senada dengan itu, Sekretaris GEMPUR, M. Zaini, menyoroti pentingnya langkah cepat pemerintah untuk mencegah gejolak sosial yang lebih luas.

"Kami menginginkan solusi konkrit bagi para pedagang. Kami menunggu political will dari pemerintah daerah agar masalah ini tidak berlarut-larut," tambahnya.

Kenyataan di lapangan jauh lebih getir dari sekadar angka kerugian material. Salah seorang perwakilan pedagang menceritakan bagaimana rekan-rekannya kini terhimpit beban finansial yang berat.

"Kondisi kami nyata. Ada pedagang yang sudah tidak sanggup membayar cicilan bank, bahkan ada yang sampai mengalami depresi karena kehilangan segalanya dalam semalam," ungkapnya lirih.

Menutup audiensi tersebut, para pedagang menitipkan harapan besar agar pada pertemuan selanjutnya, mereka dapat bertatap muka langsung dengan Bupati Lombok Timur. Mereka menantikan keputusan final yang memberikan titik terang dan keadilan, terutama terkait perbaikan data penerima bantuan dan pemulihan ekonomi pasca-bencana.

Pewarta: Red
Editor: R7 - 01