Sistem Sanitasi SPPG Labulia 2 Disorot, Komunitas Pemantau MBG NTB Ingatkan Potensi Kegagalan Lingkungan
Redaksi
Font size:
12px
Lombok Tengah - Reportase7.com
Komunitas Pemantau Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Nusa Tenggara Barat (NTB) memberikan peringatan keras terkait infrastruktur sanitasi di Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Labulia 2, Kecamatan Jonggat. Sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang ada saat ini dinilai tidak layak untuk menampung beban operasional program berskala 2.771 orang.
Perwakilan Komunitas Pemantau MBG NTB, L. Subadri, mengungkapkan bahwa jika operasional dipaksakan tanpa perbaikan infrastruktur yang signifikan, risiko kegagalan sistem sanitasi sangat tinggi. Hal ini dikhawatirkan akan mencemari lingkungan sekitar dan mengganggu kenyamanan publik.
"Jika tidak segera dilakukan perbaikan, akan terjadi kegagalan sistem sanitasi. Badan Gizi Nasional (BGN) diminta segera turun ke dapur MBG tersebut, apalagi lokasinya berada di jalur bypass yang menjadi sorotan publik," tegas Subadri.
Berdasarkan analisis teknis komunitas, unit IPAL yang digunakan saat ini hanya memiliki kapasitas statis sekitar 2 m³. Sementara itu, estimasi lonjakan limbah cair dari program MBG mencapai 5,5 m³ per hari.
"Terjadi kelebihan beban (overcapacity) sebesar 275% setiap harinya. Akibatnya, air limbah tidak sempat terproses secara biologis dan langsung keluar ke drainase dalam kondisi kotor. Ini jelas membahayakan lingkungan," papar Subadri.
Selain masalah volume, jenis limbah yang dihasilkan juga menjadi perhatian. Sisa makanan dengan kandungan protein dan lemak tinggi mempercepat proses pembusukan di dalam bak IPAL. Kondisi ini berpotensi melepas gas H2S (asam sulfida) yang menimbulkan bau busuk ekstrem dan dapat memicu keluhan dari masyarakat sekitar. Dengan total berat limbah campuran mencapai 3,2 ton per hari, intervensi teknis dinilai sebagai kebutuhan mendesak agar memenuhi standar BGN.
Menanggapi hal tersebut, Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Lombok Tengah, Ihsan, menegaskan bahwa pemenuhan standar sarana dan prasarana adalah kewajiban mutlak bagi setiap mitra program.
"Setiap dapur MBG harus memiliki IPAL sesuai standar BGN. Termasuk kewajiban memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Saat ini kami sedang melakukan validasi terkait kelengkapan di lapangan. Khusus untuk SPPG Labulia 2, kondisi terkininya sudah kami laporkan kepada pimpinan," ujar Ihsan saat dikonfirmasi, Kamis 02 April 2026.
Di sisi lain, Kepala SPPG Labulia 2, Jamaludin, memberikan penjelasan singkat mengenai fasilitas yang ada. Ia menyebutkan bahwa pihaknya telah memiliki sistem pengolahan limbah mandiri.
"IPAL-nya menggunakan septic tank bio dengan kapasitas 2.000 liter," ujar Jamaludin singkat.
Komunitas Pemantau MBG NTB berharap pihak pengelola segera melakukan peningkatan kapasitas IPAL sebelum program berjalan sepenuhnya guna menjamin keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis yang sehat, bersih, dan ramah lingkungan.
Pewarta: Red
Editor: R7 - 01
Baca juga:

0Komentar