Mataram – Reportase7.com
Di tengah ancaman krisis lingkungan global yang kian mengkhawatirkan, DPD GMNI NTB berkolaborasi dengan BEMNUS Bali-Nusra menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi kritis film dokumenter “Menolak Punah” karya Dandhy Laksono dan Aji Yahuti. Bertempat di Nonasuka Kopitiam pada Senin (04/05/2026).
Kegiatan ini menjadi momentum untuk menggugat dampak destruktif industri fashion sekaligus menawarkan solusi berbasis kearifan lokal.
Kritik Terhadap Industri Destruktif
Diskusi yang dipandu oleh Haerul Azmi ini menghadirkan pemantik diskusi Adi Ardiansyah dan ARI Sahde Gare. Fokus utama pembicaraan menyoroti bagaimana industri fashion modern menjadi penyumbang limbah plastik dan mikroplastik terbesar yang merusak ekosistem. Namun, para narasumber menegaskan bahwa industri fashion tidak selamanya harus identik dengan eksploitasi dan pencemaran.
Indonesia, khususnya Nusa Tenggara Barat (NTB), dinilai memiliki modal kuat untuk membangun peradaban berkelanjutan. Penggunaan pewarna alami yang diekstraksi dari daun, akar, kulit kayu, serta tanaman lokal terbukti jauh lebih ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan dibandingkan bahan kimia sintetis.
Menuntut Keberpihakan Negara
Ketua DPD GMNI NTB, Sulhamran, dalam orasinya menegaskan bahwa problematika lingkungan saat ini bukanlah karena minimnya solusi, melainkan soal kemauan politik pemerintah.
“Kita tidak kekurangan solusi. Kita punya pengetahuan, sumber daya, dan tradisi yang sudah sejak lama hidup selaras dengan alam. Persoalannya adalah keberpihakan: apakah negara mau mendukung jalan yang berkelanjutan atau terus membiarkan dominasi industri berbasis bahan kimia yang merusak,” tegas Hamran.
Menurutnya, arah pembangunan masa depan wajib berpihak pada model produksi yang melestarikan alam, bukan yang menghancurkannya demi profit jangka pendek.
Melalui forum ini, DPD GMNI NTB secara resmi mendorong pemerintah untuk mengambil langkah konkret, di antaranya, memberikan insentif dan ruang bagi pengembangan pewarna alami dan industri fashion berkelanjutan.
Melibatkan komunitas lokal dan pelaku UMKM dalam rantai pasok industri yang ramah lingkungan.
Menjadikan perlindungan lingkungan sebagai prioritas utama dalam kebijakan industri, bukan sekadar wacana atau pemanis retorika.
“Jika kita serius ingin menyelamatkan lingkungan, maka negara harus hadir mendukung solusi yang sudah ada di tengah masyarakat. Ini bukan hanya soal industri, tapi soal arah peradaban,” tambah Bung Hamran.
Kegiatan ini diharapkan mampu mengubah rasa prihatin publik menjadi sebuah gerakan kolektif. GMNI NTB dan BEMNUS Bali-Nusra mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mulai mengubah pola konsumsi serta terus menuntut tanggung jawab negara dalam menjaga kelestarian lingkungan demi generasi mendatang.
Pewarta: Red
Editor: R7 - 01


0Komentar