Pemuda Pancasila NTB Pelototi ​Satu Tahun Iqbal-Dinda, Rapor Merah Ekonomi dan Rentetan Proyek Gagal, Sebut Gagal Mendunia
(Foto: Sekretaris Wilayah (Sekwil) Pemuda Pancasila NTB, H. Iwan Setiawan, SE,)

 Mataram – Reportase7.com

Satu tahun kepemimpinan pasangan Gubernur Iqbal-Dinda di Nusa Tenggara Barat (NTB) menuai kritik tajam. Alih-alih membawa kemajuan, kepemimpinan ini justru dihantam "rapor merah" setelah data menunjukkan capaian ekonomi NTB terpuruk di peringkat ke-36 dari 38 Provinsi di Indonesia. Angka ini memicu alarm keras bagi kesejahteraan rakyat Bumi Gora.

​Kondisi tersebut memancing reaksi keras dari Sekretaris Wilayah (Sekwil) Pemuda Pancasila NTB, H. Iwan Setiawan, SE, atau yang akrab disapa Iwan Dante. 

Ia menilai narasi kemajuan yang selama ini didengungkan pemerintah sangat kontradiktif dengan realitas pahit di lapangan.

​"Ini adalah kado pahit satu tahun kepemimpinan Iqbal-Dinda. Ekonomi kita jeblok ke urutan buncit nasional. Apakah ini yang disebut 'Makmur Mendunia'? Realitanya ini adalah 'Gagal Mendunia'," tegas Iwan Dante, Minggu 22 Februari 2026.

​Iwan menyoroti ketidakmampuan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga komoditas strategis. Saat harga padi dan tembakau anjlok, harga cabai justru melambung ekstrem hingga menembus Rp200.000 per kilogram.

​"Kondisi ini bukti pemerintah tidak serius. Tidak ada upaya nyata menjaga stabilitas. Sektor pariwisata dan UMKM juga mati suri, okupansi hotel melorot dan pelaku usaha lokal sepi pelanggan. Mesin ekonomi di NTB sedang lumpuh dan tidak baik-baik saja," tambahnya.

​Pemuda Pancasila NTB merangkum tujuh poin kegagalan fatal yang menjadi catatan hitam setahun terakhir kepemimpinan Iqbal-Dinda. 
1.Peringkat ke-36 dari 38 provinsi pada tahun 2025.
2. Pemberhentian 500 tenaga honorer yang menambah angka pengangguran.
3. Kebijakan sewa mobil listrik senilai Rp14 miliar per tahun di tengah krisis.
4. Kebijakan non-job terhadap 200 pejabat daerah.
5. Proyek RS Manambai yang dinilai gagal total.
6. Peningkatan jalan Simpang Poto Tano (KSB) senilai Rp32 miliar yang sudah terkelupas seperti proyek tambal sulam.
7. Kegagalan total pada proyek long segment Lunyuk-Lenangguar senilai Rp20 miliar.


​Secara khusus, Iwan Dante menyoroti proyek Jalan Lunyuk-Lenangguar di Kabupaten Sumbawa sebagai simbol kegagalan manajemen. Proyek yang seharusnya tuntas 31 Desember 2025 tersebut telah diberikan adendum (perpanjangan) 50 hari hingga 19 Februari 2026. Namun, hingga saat ini pekerjaan masih mangkrak.

​"Target lewat, adendum habis, tapi fisik masih jauh dari kata tuntas. Ini menghambat konektivitas ekonomi rakyat. Ini baru tahun pertama, kita lihat saja kegagalan apa lagi yang akan dipertontonkan di tahun-tahun berikutnya. 'Makmur Mendunia' hanya slogan angin lalu," tutup Iwan dengan nada satir.

Pewarta: Red
Editor: R7 - 01