NTB Mendunia atau NTB Meninggal Dunia! Rakyat Lunyuk Patungan Perbaiki Proyek Jalan Mangkrak Senilai Rp19 Miliar
Redaksi
Font size:
12px
Sumbawa – Reportase7.com
Slogan "NTB Mendunia" yang kerap didengungkan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kontras dengan realita pahit yang dihadapi masyarakat di Kecamatan Lunyuk, Kabupaten Sumbawa, Senin 09 Maret 2026.
Di tengah klaim keberhasilan peningkatan pendapatan pajak daerah, warga Lunyuk justru harus turun tangan melakukan perbaikan jalan secara swadaya lantaran proyek pemerintah senilai lebih dari Rp19 miliar tak kunjung tuntas.
Proyek long segment jalan Lunyuk-Lenangguar yang dikerjakan oleh PT AJP asal Aceh selaku pemenang tender kini kondisinya memprihatinkan. Alih-alih menjadi urat nadi ekonomi, jalan tersebut berubah menjadi kubangan lumpur dan lubang dalam yang memutus kenyamanan aktivitas warga.
Geram karena tak ada perhatian serius dari pemerintah, masyarakat akhirnya bergerak sendiri memperbaiki kerusakan dengan alat dan dana seadanya.
Abdul Muis, salah satu warga Kecamatan Lunyuk yang ikut terjun langsung dalam aksi gotong royong tersebut, meluapkan kekecewaannya. Ia menyebut kondisi jalan hasil karya Pemprov NTB itu tak ubahnya seperti "jalan jin buang anak".
"Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap rakyat, terutama rakyat Sumbawa bagian selatan. Ini bukan NTB Mendunia, tapi NTB Meninggal Dunia! Mana hati nurani para pejabat Provinsi melihat kondisi seperti ini? Jangan menunggu korban berjatuhan baru sibuk menjadi pahlawan," tegas Abdul Muis yang akrab di sapa Aji dengan nada geram saat dihubungi media.
Masyarakat menilai Pemerintah Provinsi NTB telah "tuli dan buta" terhadap penderitaan warga di wilayah selatan Sumbawa. Proyek yang seharusnya sudah bisa dinikmati manfaatnya kini justru mangkrak dan memicu kemarahan publik.
Warga merasa kontribusi mereka melalui pajak yang dibanggakan pemerintah tidak berbalas dengan infrastruktur yang layak.
"Kami butuh tanggung jawab nyata, bukan sekedar retorika di atas panggung atau media sosial. Proyek miliaran rupiah ini uang rakyat, tapi hasilnya justru menyengsarakan rakyat," tambah Aji.
Aksi swadaya ini menjadi simbol protes keras sekaligus tamparan bagi Pemprov NTB dan pihak kontraktor. Masyarakat menuntut agar pemerintah segera mengambil langkah tegas terhadap kontraktor pelaksana dan menyelesaikan pengerjaan jalan tersebut sebelum jatuh korban jiwa akibat kondisi jalan yang ekstrem.
Masyarakat menegaskan akan terus mengawal persoalan ini dan menuntut transparansi atas penggunaan anggaran Rp19 miliar lebih yang dianggap gagal memberikan azas manfaat bagi warga Lunyuk.
Pewarta: Red
Editor: R7 - 01
Baca juga:

0Komentar