
(Foto: Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Sumbawa Barat, dr. Carlof Sitompul, M.MRS., MQM,)
Sumbawa Barat – Reportase7.com
Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat terus melakukan langkah masif dalam upaya percepatan penurunan angka stunting. Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Sumbawa Barat, dr. Carlof Sitompul, M.MRS., MQM, menegaskan bahwa penanganan stunting dilakukan melalui dua jalur utama yang saling terintegrasi, yakni Intervensi Spesifik dan Intervensi Sensitif.
Dalam penjelasannya, dr. Carlof menekankan bahwa Dinas Kesehatan mengambil peran dominan pada Intervensi Spesifik, yaitu tindakan yang langsung menyasar penyebab terjadinya stunting pada sektor kesehatan. Strategi ini dimulai bahkan sebelum pembuahan terjadi sebagai bentuk pengawalan kesehatan dari hulu.
"Kami fokus pada persiapan remaja putri yang akan memasuki jenjang pernikahan. Kondisi kesehatan mereka harus dipastikan prima, tidak mengalami anemia, dan tercukupi gizinya. Jika calon ibu sehat, maka janin yang dikandungnya pun akan sehat dan terhindar dari risiko gizi kurang," ujar dr. Carlof, ditemui di ruang kerjanya.
Selain pendampingan remaja putri dan ibu hamil, Dikes juga menitikberatkan pada tata laksana medis terhadap balita yang terdeteksi mengalami masalah pertumbuhan. Hal ini mencakup pemantauan rutin dan pemberian asupan gizi tambahan yang terukur.
Lebih lanjut, dr. Carlof memaparkan bahwa terdapat 13 indikator utama yang menjadi acuan dalam mencegah stunting di Sumbawa Barat. Indikator ini mencakup pemenuhan nutrisi hingga layanan kesehatan dasar yang wajib dipenuhi oleh setiap keluarga.
Berikut 13 indikator pencegaha
1. Persentase ibu hamil Kurang Energi Kronik (KEK) yang mendapat tambahan asupan gizi
2. Persentase ibu hamil yang mengkonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) minimal 90 tablet selama masa kehamilan
3. Persentase remaja putri yang mengkonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD)
4. Persentase bayi usia kurang darah dari 6 bulan mendapat Air Susu Ibu (ASI) ekslusif.
5. Persentase anak usia 6-23 bulan yang mendapat Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI).
6. Persentase anak berusia di bawah lima tahun (Balita) yang gizi buruk mendapat pelayanan tata laksana gizi buruk.
7. Persentase anak berusia di bawah lima tahun (Balita) yang dipantau pertumbuhan dan perkembangannya.
8. Persentase anak berusia di bawah lima tahun (Balita) gizi kurang yang mendapat tambahan asupan gizi.
9. Persentase anak berusia di bawah lima tahun (Balita) gizi kurang yang memperoleh imunisasi dasar lengkap.
10. Pemantauan pertumbuhan Balita
11. Remaja putri menjalani skrining anemia
12. Ibu hamil menjalani pemeriksaan kesehatan/ANC
13. Desa bebas dari Buang Air Besar Sembarangan (BABS).
Namun, dr. Carlof mengingatkan bahwa kesehatan hanyalah satu bagian dari ekosistem pencegahan. Untuk Intervensi Sensitif, diperlukan kerja sama lintas sektoral yang kuat.
"Intervensi sensitif ini ranahnya lebih luas. Ini berbicara tentang pendidikan kesehatan, pola asuh orang tua, ketersediaan air bersih, sanitasi, hingga ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Di sinilah peran instansi lain dan kesadaran orang tua menjadi kunci," tambahnya.
Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat berharap dengan sinergi antara intervensi medis (spesifik) dan dukungan lingkungan/sosial (sensitif), angka stunting dapat ditekan secara signifikan.
"Peran aktif orang tua dalam memastikan pola asuh yang benar menjadi jembatan utama keberhasilan program ini," pungkasnya.
Pewarta: Red
Editor: R7 - 01
Dinkes Sumbawa Barat Perkuat Strategi Ganda, Intervensi Spesifik dan Sensitif demi Tekan Angka Stunting
Redaksi
Font size:
12px
Baca juga:
0Komentar