Dialog Tokoh, Buya Zul Refleksikan Perjalanan Membangun Sumbawa Barat dan Harapan Penguatan SDM
Sumbawa Barat – Reportase7.com
Pemerintah Kabupaten Sumbawall Barat menggelar Dialog Tokoh bertema “Dari Awal Membangun Sumbawa Barat: Refleksi Kepemimpinan, Pengabdian, dan Harapan untuk Masa Depan” bersama Dr. K.H. Lalu Zulkifli Muhadli, BA., S.H., M.M., Bupati Sumbawa Barat periode 2005–2015, di Aula Kila Balad, Taliwang, Kamis 17 September 2026.
Dalam pemaparannya, Buya Zul, sapaan akrab Dr. K.H. Zulkifli Muhadli, mengajak peserta merefleksikan perjalanan awal pembangunan KSB, tantangan kepemimpinan, serta pentingnya penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai fondasi kemajuan daerah.
Ia menekankan bahwa Sumbawa Barat tidak cukup dikenal karena kekayaan sumber daya alam, tetapi juga harus mampu membangun SDM yang berkualitas. Menurutnya, Universitas Cordova memiliki peran strategis dalam meningkatkan pendidikan masyarakat KSB, yang perlu didukung melalui kolaborasi berbagai pihak.
“Jangan kita hanya dikenal punya sumber daya alam. Kita ingin mengangkat sumber daya manusia kita agar kita dikenal punya SDM unggul,” ujar Buya Zul.
Selain SDM, Buya Zul juga menyoroti tantangan kependudukan yang berpengaruh terhadap perputaran ekonomi daerah. Ia menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi memerlukan keterkaitan antara manusia, uang, mesin, dan pasar (man, money, machine, market), sehingga kebijakan kependudukan perlu dipersiapkan secara berkelanjutan.
Merefleksikan pengalaman kepemimpinannya, Buya Zul turut menceritakan dinamika politik dan tantangan pembangunan pada masa awal pemerintahan KSB, termasuk persoalan pembangunan kantor bupati serta proses hak angket DPRD pada tahun 2005. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran mengenai ketahanan kepemimpinan dan perjalanan membangun daerah.
Lebih lanjut, Buya Zul memaparkan pandangannya mengenai pembangunan peradaban dengan merujuk pada gagasan Problem of Civilization dari Malek Bennabi. Ia menjelaskan bahwa manusia, tanah, dan waktu merupakan unsur penting dalam membangun peradaban. Ketiga unsur tersebut, menurutnya, perlu diikat oleh religious idea atau gagasan keagamaan yang berfungsi memberikan arah dan motivasi bagi proses pembangunan.
Manusia ditempatkan sebagai unsur utama karena pembangunan peradaban membutuhkan kualitas dan kapasitas manusia yang memadai. Tanah merupakan ruang sekaligus sumber daya yang perlu dimanfaatkan dan dikelola secara optimal, sedangkan waktu menunjukkan bahwa pembangunan peradaban merupakan proses yang membutuhkan tahapan dan keberlanjutan. Ia mengibaratkan peradaban seperti kehidupan manusia yang melalui fase kelahiran, pertumbuhan, kedewasaan, hingga akhirnya mengalami perubahan.
Dalam pembahasan mengenai tata kelola pemerintahan, Buya Zul menekankan pentingnya pemerintah menggerakkan partisipasi masyarakat, bukan semata-mata menjalankan fungsi memerintah. Ia menyampaikan prinsip “The closer the government, the better it serves”, yang dimaknai sebagai pentingnya kedekatan pemerintah dengan masyarakat agar pelayanan dan pembangunan dapat lebih responsif terhadap kebutuhan warga. Gagasan tersebut, lanjutnya, menjadi salah satu landasan pemikiran dalam pengembangan pemerintahan berbasis rukun tetangga melalui model pembangunan partisipatif.
Pada bagian lain, Buya Zul menyoroti pentingnya kebijakan investasi yang memperhatikan keberlanjutan sumber daya dan manfaat antargenerasi. Ia membedakan sumber daya yang dapat diperbarui (renewable resources) dan sumber daya yang tidak dapat diperbarui (unrenewable resources), serta menekankan perlunya tata kelola yang cermat agar kekayaan daerah dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan dan berkeadilan.
Menurutnya, investasi perlu dibangun berdasarkan tiga prinsip, yakni taat asas, memberikan keamanan dan manfaat ekonomi, serta menumbuhkan rasa memiliki dan kepedulian bersama. Prinsip tersebut dipandang penting agar kegiatan investasi tidak berhenti pada aspek ekonomi, tetapi juga memperhatikan kepastian aturan dan kepentingan pembangunan daerah dalam jangka panjang.
Dalam sesi tanya jawab yang berlangsung pada akhir kegiatan, Buya Zul kembali menekankan pentingnya ketangguhan atau resiliensi sebagai modal masyarakat dalam menghadapi tantangan. Ia menggunakan pengalaman negara lain sebagai bahan refleksi mengenai kemampuan bertahan dalam situasi sulit, kemudian mengaitkannya dengan kebutuhan masyarakat Sumbawa Barat untuk membangun daya tahan sosial, pendidikan, dan keyakinan dalam menghadapi perubahan.
Ia menjelaskan bahwa manusia memiliki berbagai bentuk modal, meliputi modal sosial (social capital), modal budaya (cultural capital), modal ekonomi (economic capital), dan modal simbolik (symbolic capital). Namun, menurutnya, berbagai modal tersebut perlu diperkuat dengan believe capital, yang ia kaitkan dengan keyakinan dan resiliensi sebagai unsur pendukung kemampuan bertahan serta melanjutkan perjuangan pembangunan.
Menutup pemaparannya, Buya Zul mengajak seluruh pihak melakukan refleksi terhadap tujuan hidup, tanggung jawab, dan amanah yang diemban. Ia menyampaikan bahwa pembangunan daerah menuju kondisi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur atau negeri yang baik di bawah naungan ampunan Tuhan memerlukan kualitas masyarakat, integritas, serta komitmen moral dalam menjalankan tanggung jawab.
“Kita harus tafakkur, merenung, tanyakan kepada diri sendiri, dalam hidup ini apa yang ingin kita cari? Jika kita sudah menemukan jawaban, insya Allah kita akan berhasil mencapai apa yang kita inginkan. Jadilah buah bibir yang baik karena yang seharusnya diingat dan dibicarakan ketika kita selesai menjabat adalah kebaikan-kebaikan kita, sebab ini adalah amanah yang diberikan oleh Allah SWT,” pesannya.
Pewarta: Red
Editor: R7 - 01


0 Komentar