Travel Lingkar Selatan Sirkuit Ancam Blokir Akses MotoGP, Warga Sekitar Tuntut Keterlibatan, Bukan hanya Pihak Luar
Lombok Tengah - Reportase7.com
Suara protes bergema kian keras dari kalangan pelaku usaha jasa perjalanan wisata yang bermukim dan bergerak di kawasan sekitar Sirkuit Internasional Mandalika. Terhimpun dalam wadah Travel Lingkar Selatan Sirkuit, para pengusaha lokal ini menyatakan kekecewaan yang tak bisa lagi dibendung. Mereka merasa diabaikan, dipinggirkan, dan sama sekali tidak diberi ruang untuk turut berpartisipasi dalam perhelatan olahraga dunia paling bergengsi yang digelar di tanah kelahiran mereka sendiri.
Protes tersebut disampaikan oleh H. Ramli yang akrab disapa Tuan Li secara terbuka media. Ia menyatakan selama ini, nama-nama yang dipanggil, diberi kesempatan, dan dilibatkan dalam rangkaian persiapan maupun pelaksanaan ajang MotoGP justru berasal dari luar kawasan, bahkan dari luar pulau.
"Sementara warga yang tinggal berdampingan dengan sirkuit sejak tanah belum menjadi dikenal dunia, seolah-olah tidak pernah dianggap ada. Kami selama ini tidak pernah dipandang ada oleh pihak ITDC," ujar Tuan Li, 16 September 2026.
Ia menegaskan, nggota kordinator perkumpulan Travel Lingkar Selatan Sirkuit merasa diabaikan yang dilibatkan justru pihak-pihak dari luar saja.
Ketidakadilan dalam pembagian kesempatan ini dirasakan semakin terasa, karena perhelatan yang akan datang itu sendiri berdiri di atas wilayah yang selama ini menjadi rumah warga. Perubahan tata ruang, pemindahan pemukiman, hingga penyesuaian kehidupan sehari-hari telah warga lakukan demi kehadiran sirkuit ini. Namun saat tiba waktunya untuk merasakan manfaat dan keberkahan dari perhelatan tersebut, pintu justru tertutup rapat bagi mereka.
Kekecewaan yang mendalam ini akhirnya melahirkan sikap tegas yang tidak diinginkan, namun dinilai sebagai satu-satunya cara agar suara mereka didengar. Kelompok Travel Lingkar Selatan Sirkuit menyatakan siap mengambil langkah nyata untuk menghentikan arus menuju sirkuit jika tuntutan keterlibatan warga tidak segera dipenuhi.
"Kami siap memblokir jalan di Bundaran Songgong dan Bundaran Surping, sekaligus menutup akses menuju lokasi acara MotoGP 2026," tegasnya.
Tindakan ini bukan sekadar amarah sesaat, melainkan seruan agar pihak-pihak berwenang mulai membuka mata dan menyadari satu hal yang mendasar. Keberhasilan sebuah ajang besar tidak boleh dibangun di atas ketidakadilan terhadap warga asli setempat.
"Kami tidak menolak kemajuan. Kami juga ingin MotoGP sukses dan dikenal dunia. Tetapi kami pun punya hak untuk ikut serta, bukan sekadar menjadi penonton di tanah sendiri yang kini ramai dikunjungi orang," tambahnya.
Kelompok ini menegaskan bahwa mereka tidak meminta keistimewaan yang berlebihan yang mereka minta hanyalah kesempatan yang sama, ruang yang setara, dan perlakuan yang adil. Mereka ingin ikut mengantar tamu, ikut mengelola perjalanan wisatawan, ikut menopang kesuksesan acara ini bersama-sama, sebagaimana pihak luar yang kini diprioritaskan.
Pewarta: Ihsan
Editor: R7 - 01

0 Komentar