Raksasa Tambang di KSB Disorot, PT AMNT Dituding Gagal Jadi Lokomotif Wisata dan Ekonomi Kerakyatan

Sumbawa Barat – Reportase7.com

Kehadiran PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) sebagai perusahaan emas dan tembaga raksasa di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) kembali menuai kritik tajam. Di tengah aliran dana triliunan rupiah dari ekspor konsentrat dan operasional smelter, perusahaan tersebut dituding gagal bertransformasi menjadi lokomotif penggerak sektor pariwisata dan pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan.

​Publik KSB menyoroti dominasi bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) yang dinilai hanya bersifat instan seperti bantuan sembako atau dukungan seremonial sesaat tanpa meninggalkan jejak sukses atau kemandirian bagi masyarakat lokal.

​Mashud Yusuf, tokoh masyarakat sekaligus pengamat sosial yang juga mantan Kepala Desa Goa dan mantan Ketua FK2D, menegaskan bahwa pola CSR PT AMNT saat ini masih terjebak pada program filantropi jangka pendek.

​"Seringkali program dibuat sepihak oleh perusahaan tanpa melibatkan perencanaan partisipatif, sehingga tidak menyentuh akar kebutuhan masyarakat. CSR jangan dijadikan alat untuk meredam konflik secara cepat, melainkan untuk membangun kapasitas," ujar Mashud kepada media, Minggu 21 Juni 2026.

​Menurutnya, sistem bantuan instan yang terus dipertahankan justru menciptakan budaya "menta" atau ketergantungan masyarakat. Ia menyoroti bahwa banyak program UMKM binaan tidak berjalan efektif karena tidak disesuaikan dengan potensi lokal dan minimnya pendampingan intensif.

​"Pemberdayaan ekonomi jangan hanya sebatas pada mana yang disuka. Pelatihan wirausaha, pembentukan BUMDes, dan pengembangan UMKM harus terukur. Begitu pun di sektor pendidikan, peningkatan skill teknis agar masyarakat bisa bekerja di luar sektor tambang atau menjadi pemasok perusahaan masih sangat minim," tegasnya.

​"3 Dosa Struktural" AMNT di KSB
​Kritik masyarakat KSB mengerucut pada tiga persoalan struktural yang belum terjawab oleh AMNT. 
1. ​Orientasi Ekonomi Makro yang Timpang: Pertumbuhan ekonomi KSB masih terlalu bergantung pada ekspor tambang, sementara sektor jasa dan pariwisata belum merasakan multiplier effect (efek pengganda) dari kehadiran perusahaan.

2. ​Infrastruktur Wisata yang Mati: Meski memiliki potensi besar, akses dan fasilitas destinasi wisata di KSB masih tertinggal dan belum tersentuh pembangunan infrastruktur permanen dari pihak perusahaan.

3. ​Ekonomi Sektoral yang Terisolasi: Investasi dan rantai pasok dinilai hanya berputar di lingkar tambang, tanpa mampu melahirkan destinasi wisata baru atau kemandirian ekonomi yang inklusif bagi masyarakat luas.

​Salah satu contoh potensi yang terabaikan adalah tradisi Sandeka Dilao (Sedekah Laut) di Desa Labuan Lalar. Masyarakat mendesak agar AMNT berhenti memberikan dukungan berupa "amplop acara" dan mulai mengalokasikan anggaran untuk pembangunan infrastruktur permanen agar tradisi kelas dunia ini bisa menjadi magnet wisatawan yang berkelanjutan.

​Terkait desakan ini, Senior Manager External AMNT, Ahmad Salim, sebelumnya pernah menyatakan kesiapan perusahaan untuk mendukung pengembangan pariwisata KSB. Namun, publik kini menagih bukti nyata berupa cetak biru (blueprint) pembangunan, anggaran yang jelas, dan wujud fisik, bukan sekadar janji manis di atas panggung seremoni.

​Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat sejatinya telah berupaya mendorong pariwisata dan pelestarian budaya lokal. Namun, tanpa intervensi nyata dari AMNT, wisata KSB diprediksi akan terus berada di bawah bayang-bayang tambang.

​"KSB sudah memberikan ruang operasional yang masif bagi AMNT. Sekarang saatnya AMNT membuktikan bahwa kehadiran tambang tidak hanya mengeruk kekayaan alam, tetapi juga memastikan pariwisata hidup dan UMKM warga berdaya secara permanen," pungkas Mashud.

Pewarta: Red
Editor: R7 - 01