TfW5GSCoTpOpTSY0BUC9TUC8Gi==
0
    0
      Breaking News

      QRIS Bank NTB Syariah Tumbuh, Literasi Digital Jadi Bagian Penting Transaksi Masyarakat

       

      Departement Head FTD Bank NTB Syariah, David Rosedi, saat memberikan penjelasan tentang performance QRIS Bank NTB Syariah saat jumpa pers di aula Bank NTB Syariah pada Minggu 27 September 2026. Credit: Sulhadi

      Mataram – Reportase7.com

      Pemanfaatan pembayaran digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) terus berkembang di Bank NTB Syariah. Pertumbuhan tersebut terlihat dari meningkatnya jumlah merchant, frekuensi transaksi, hingga nilai transaksi QRIS sepanjang periode 2025 sampai September 2026.

      Perkembangan layanan QRIS tersebut dipaparkan Departement Head FTD Bank NTB Syariah, David Rosedi, dalam jumpa pers yang berlangsung di Aula Bank NTB Syariah, Mataram, Minggu (27/9/2026).

      “Dari Juli 2025 hingga Agustus 2026 ada 13.000 lebih transaski QRIS, itu 100 persen lebih,” ujar David Rosedi.

      Paparan mengenai kinerja QRIS tersebut sekaligus menunjukkan semakin luasnya penggunaan layanan pembayaran digital dalam aktivitas transaksi masyarakat. Di sisi lain, pertumbuhan transaksi digital juga membutuhkan penguatan literasi agar masyarakat tidak hanya mampu menggunakan QRIS, tetapi memahami cara bertransaksi secara aman dan bijak.

      Berdasarkan data yang ditampilkan dalam presentasi Bank NTB Syariah, David, meyampaikan bahwa jumlah merchant QRIS menunjukkan tren peningkatan yang cukup konsisten.

      Pada 31 Juli 2025, jumlah merchant tercatat sebanyak 6.538 merchant. Angka tersebut meningkat menjadi 10.185 merchant pada 31 Desember 2025.

      Pertumbuhan berlanjut pada 2026. Per 30 Juni 2026, jumlah merchant mencapai 12.606. Kemudian meningkat menjadi 13.272 merchant pada 31 Juli 2026, 13.863 merchant pada 31 Agustus 2026, dan mencapai 14.386 merchant per 21 September 2026.

      Dengan demikian, dibandingkan posisi 31 Juli 2025, jumlah merchant QRIS Bank NTB Syariah telah bertambah sekitar 7.848 merchant hingga 21 September 2026.

      Angka tersebut memperlihatkan bahwa penggunaan QRIS tidak lagi hanya berkaitan dengan kebutuhan transaksi pada kelompok masyarakat tertentu. Bertambahnya merchant menunjukkan semakin banyak pelaku usaha yang masuk ke dalam ekosistem pembayaran digital.

      Transaksi QRIS Terus Berkembang


      Pertumbuhan juga terlihat pada frekuensi transaksi QRIS.


      Dalam paparan Bank NTB Syariah, Ia juga menyampaikan frekuensi transaksi pada 31 Juli 2025 tercatat 62.189 transaksi. Jumlah tersebut meningkat menjadi 266.213 transaksi pada 31 Desember 2025.

      Memasuki 2026, frekuensi transaksi terus mengalami peningkatan. Pada 30 Juni 2026 tercatat 380.278 transaksi, kemudian menjadi 416.763 transaksi pada 31 Juli 2026 dan 478.340 transaksi pada 31 Agustus 2026.

      Sementara itu, data per 21 September 2026 menunjukkan frekuensi transaksi sebesar 364.845 transaksi.

      Angka September tersebut perlu dibaca berdasarkan periode pencatatan. Data yang ditampilkan merupakan posisi hingga 21 September, sehingga belum menggambarkan keseluruhan transaksi selama satu bulan September 2026.

      Hal serupa juga terlihat pada nilai transaksi. Berdasarkan presentasi, nominal transaksi QRIS tercatat sekitar Rp18,437 miliar pada 31 Juli 2025. Nilai tersebut meningkat menjadi sekitar Rp29,988 milia pada 31 Desember 2025.

      Pada 30 Juni 2026, nominal transaksi mencapai sekitar Rp42,060 miliar. Selanjutnya meningkat menjadi sekitar Rp47,272 miliar pada 31 Juli 2026 dan Rp49,607 miliar pada 31 Agustus 2026.

      Hingga 21 September 2026, nominal transaksi yang tercatat sekitar Rp35,462 miliar.

      Data tersebut menunjukkan bahwa perkembangan QRIS Bank NTB Syariah tidak hanya terlihat dari jumlah merchant, tetapi juga dari aktivitas transaksi yang dilakukan melalui kanal pembayaran digital tersebut.

      Bertambahnya Merchant Memperluas Ekosistem Digital


      Peningkatan jumlah merchant memiliki kaitan dengan semakin luasnya pilihan masyarakat dalam melakukan transaksi secara nontunai.

      Merchant menjadi salah satu titik penting dalam ekosistem QRIS karena menjadi tempat bertemunya layanan pembayaran digital dengan kebutuhan transaksi masyarakat. Ketika semakin banyak pelaku usaha menyediakan QRIS, masyarakat memperoleh lebih banyak pilihan untuk melakukan pembayaran menggunakan perangkat digital.

      “Kita masuk ke pasar-pasar dan UMKM seperti diPasar Dasan Agung kota Mataram,” ujar David.

      Bagi pelaku usaha, keberadaan QRIS juga menjadi bagian dari adaptasi terhadap perubahan kebiasaan konsumen. Transaksi yang sebelumnya identik dengan uang tunai secara bertahap dapat dilakukan melalui sistem pembayaran digital.

      Namun, pertumbuhan tersebut tidak cukup hanya diukur dari jumlah merchant dan transaksi. Aspek pemahaman pengguna juga menjadi bagian penting dalam perkembangan ekosistem digital.

      Literasi digital diperlukan agar masyarakat mengetahui bagaimana melakukan transaksi dengan benar, memeriksa informasi pembayaran sebelum melakukan konfirmasi, serta memahami pentingnya menjaga data pribadi dan keamanan akun.

      Dalam konteks tersebut, perkembangan QRIS sekaligus menjadi bagian dari perubahan perilaku masyarakat dalam menggunakan layanan keuangan berbasis teknologi.

      Tabungan dan CASA Merchant QRIS


      Selain menampilkan perkembangan merchant dan transaksi QRIS, presentasi Bank NTB Syariah juga memperlihatkan perbandingan tabungan dengan CASA Merchant QRIS.

      Data pada grafik menunjukkan posisi tabungan dalam satuan Rp miliar, sementara CASA Merchant QRIS juga ditampilkan dalam satuan Rp miliar.

      Pada grafik tersebut, David, menyampaikan posisi tabungan tercatat Rp3,745 miliar pada Desember 2025. Angka tersebut kemudian bergerak pada kisaran Rp3,2 miliar hingga Rp3,5 miliar dalam periode berikutnya.

      Sementara itu, CASA Merchant QRIS menunjukkan perkembangan dari sekitar Rp114 miliar pada Desember 2025, kemudian berada di kisaran Rp100 miliar hingga Rp140 miliar pada periode berikutnya.

      Pada posisi yang ditampilkan hingga September 2026, CASA Merchant QRIS berada di kisaran Rp142 miliar. 

      Perbandingan tersebut memberikan gambaran bahwa aktivitas merchant yang terhubung dengan layanan QRIS juga berkaitan dengan perkembangan dana yang tercatat dalam ekosistem perbankan.

      Namun, angka dalam grafik merupakan data pada periode tertentu sehingga perlu dibaca sesuai tanggal pencatatannya. Khusus September 2026, data QRIS yang dipaparkan menggunakan posisi 21 September 2026, bukan keseluruhan bulan.

      Literasi Digital Tidak Sekadar Bisa Menggunakan QRIS


      Di tengah meningkatnya penggunaan pembayaran digital, literasi masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan QRIS.

      Kemampuan menggunakan QRIS seharusnya diikuti pemahaman mengenai proses transaksi. Pengguna perlu mengetahui kepada siapa pembayaran dilakukan, memastikan nominal transaksi sebelum melakukan pembayaran, dan menyimpan bukti transaksi ketika diperlukan.

      Masyarakat juga perlu memahami bahwa kemudahan pembayaran digital harus disertai kewaspadaan terhadap potensi penyalahgunaan informasi.

      Data pribadi, kode keamanan, PIN, maupun informasi sensitif lainnya tidak semestinya diberikan kepada pihak lain. Pengguna juga perlu berhati-hati terhadap berbagai bentuk komunikasi yang mengatasnamakan layanan perbankan atau pembayaran digital.

      Literasi digital dengan demikian tidak berhenti pada kemampuan memindai kode QR. Lebih jauh, literasi mencakup kemampuan memahami proses transaksi, mengenali informasi yang benar, menjaga keamanan data, serta mengambil keputusan secara hati-hati ketika menggunakan layanan digital.

      “Kita ada tim literasi digital,” ujar David.

      Hal tersebut menjadi semakin relevan seiring meningkatnya jumlah pengguna dan merchant dalam ekosistem pembayaran digital.

      QRIS dan Pelaku UMKM


      Bertambahnya merchant QRIS juga berkaitan dengan peluang digitalisasi transaksi pada sektor usaha, termasuk UMKM.

      Pelaku usaha yang menyediakan pembayaran QRIS dapat memberikan alternatif pembayaran kepada konsumen. Transaksi nontunai juga dapat menjadi bagian dari pencatatan aktivitas usaha secara lebih terstruktur, bergantung pada sistem pengelolaan keuangan yang digunakan masing-masing pelaku usaha.

      Bagi UMKM, proses digitalisasi tidak hanya menyangkut promosi melalui media sosial atau pemasaran secara daring. Sistem pembayaran juga menjadi salah satu aspek yang ikut mengalami perubahan.

      Karena itu, edukasi kepada pelaku usaha menjadi penting. Merchant perlu memahami mekanisme pembayaran, melakukan pengecekan transaksi, dan memastikan dana yang diterima sesuai dengan transaksi yang dilakukan.

      Pada saat yang sama, konsumen juga memiliki peran dalam memastikan transaksi berlangsung dengan benar.

      Pertumbuhan jumlah merchant QRIS Bank NTB Syariah dari 6.538 merchant pada Juli 2025 menjadi 14.386 merchant per 21 September 2026 memberikan gambaran mengenai semakin luasnya ekosistem tersebut.

      Perlu Diikuti Edukasi dan Keamanan


      Pertumbuhan transaksi digital pada akhirnya membutuhkan keseimbangan antara kemudahan dan keamanan.

      Semakin banyak masyarakat menggunakan pembayaran digital, semakin penting pula pemahaman mengenai keamanan transaksi. Pengguna perlu membiasakan diri melakukan pemeriksaan sebelum menyelesaikan pembayaran.

      Pengecekan nama penerima, nominal, serta informasi transaksi menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan sebelum konfirmasi.

      Dari sisi merchant, pemahaman terhadap transaksi masuk juga penting. Pelaku usaha perlu memastikan pembayaran benar-benar diterima dan tidak hanya mengandalkan tampilan atau pemberitahuan yang belum diverifikasi.

      Dalam ekosistem digital, kebiasaan melakukan verifikasi menjadi bagian dari literasi yang perlu terus dibangun.

      Data yang dipaparkan Bank NTB Syariah menunjukkan bahwa QRIS telah berkembang menjadi salah satu bagian dari aktivitas pembayaran digital bank tersebut. Jumlah merchant meningkat, frekuensi transaksi bertambah, dan nominal transaksi juga menunjukkan perkembangan.

      Namun, pertumbuhan angka tersebut berjalan beriringan dengan kebutuhan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat.

      Perubahan Kebiasaan Transaksi


      Perkembangan QRIS juga menggambarkan perubahan kebiasaan masyarakat dalam melakukan pembayaran.

      Jika sebelumnya transaksi sehari-hari sangat bergantung pada uang tunai, perkembangan teknologi memberikan pilihan pembayaran melalui perangkat digital. Perubahan tersebut dapat ditemukan pada berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari transaksi pada pelaku usaha hingga kebutuhan pembayaran sehari-hari.

      Kehadiran QRIS membuat proses pembayaran dapat dilakukan dengan lebih praktis tanpa harus menyediakan uang tunai dalam jumlah tertentu.

      Meski demikian, kemudahan tidak berarti menghilangkan kebutuhan terhadap kehati-hatian. Justru semakin mudah sebuah transaksi dilakukan, semakin penting pengguna memahami prosesnya.

      Dalam konteks inilah literasi digital menjadi bagian penting dari perkembangan pembayaran digital.

      Jumpa pers Bank NTB Syariah bersama awak media tersebut menjadi momentum penyampaian informasi kepada publik mengenai perkembangan QRIS sekaligus memberikan gambaran mengenai pertumbuhan ekosistem transaksi digital.

      Pewarta: Hadi
      Editor: R7-02

      Baca juga:

      Loading...
      Tambahkan komentar

      0 Komentar

      Tulis komentar
      Next Post
      Next Post
      Ads
      Ads
      Ads

      Info

      Info
      • Jl. TGH Faisal No. 102 Turida, Mataram, NTB
      • +62 823 4177 7795
      • reportase7.com