Refleksi Berkelas Ketua BEM UGM Hadapi Intimidasi Verbal Wakil Ketua BGN
Redaksi
Font size:
12px
Yogyakarta - Reportase7.com
Jagat media sosial baru-baru ini dihangatkan oleh dinamika komunikasi antara mahasiswa dan pejabat negara. Tyo Ardianto, Ketua BEM KM Universitas Gadjah Mada (UGM), menunjukkan standar baru dalam merespons serangan personal setelah kritikannya terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dibalas dengan sebutan "bodoh" dan emoji monyet oleh Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).
Bukannya membalas dengan makian serupa, Tyo justru memilih jalur refleksi intelektual yang mendalam. Respons ini memicu simpati publik dan menegaskan kembali fungsi mahasiswa sebagai kontrol sosial yang tak mudah goyah oleh intimidasi, Senin 23 Februari 2026.
Dalam dunia akademik, kritik terhadap program publik bukanlah sebuah dosa, melainkan tradisi intelektual yang sehat. Kampus secara historis adalah ruang kontrol sosial demi memastikan kebijakan negara tetap berada di jalur yang tepat.
"Kritik itu vitamin demokrasi, bukan racun negara. Jika sebuah program memiliki fundamental yang kuat, ia tidak akan roboh hanya karena kritik. Sebaliknya, jika kritik dianggap lemah, seharusnya dijawab dengan data, bukan dengan merendahkan martabat," ujar Tyo dalam catatan refleksinya.
Bagian paling menarik dari respons Tyo adalah caranya membedah simbol "monyet" yang dilontarkan kepadanya. Tanpa rasa marah yang meledak-ledak, ia justru memberikan perspektif moral yang filosofis.
"Manusia dan monyet itu sejatinya satu keluarga primata. Yang berbeda, monyet tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai makhluk paling mulia. Tapi, buktinya justru monyet tidak pernah korupsi, tidak menindas saudaranya, dan tidak menjilat demi dapat pangkat," tulisnya.
Pernyataan ini seolah menjadi cermin bagi para pemangku kebijakan. Tyo menekankan bahwa kedewasaan berdiskusi adalah cerminan dari kualitas seorang pemimpin.
Insiden ini memicu diskusi luas mengenai standar komunikasi pejabat publik. Sebagai sosok yang dibayar oleh rakyat untuk menjalankan program demi kepentingan seluruh rakyat Indonesia, bukan segelintir elite. Publik berharap adanya respons yang lebih dewasa dan berbasis argumen.
Tyo Ardianto membuktikan bahwa meski mahasiswa mungkin memiliki keterbatasan data, mereka tidak kekurangan etika. Ia memilih tidak menjadi korban (playing victim), melainkan berdiri tegak dengan gagasan.
Dinamika ini menjadi pelajaran penting bagi demokrasi Indonesia. Kegaduhan seringkali bukan lahir dari perbedaan pendapat, melainkan dari ego yang merasa tak boleh disentuh. Melalui sikapnya, Tyo mengingatkan bahwa di atas jabatan dan kekuasaan, ada integritas dan akal sehat yang harus tetap dijaga.
Pewarta: Red
Editor: R7 - 01
Baca juga:

0Komentar