TfW5GSCoTpOpTSY0BUC9TUC8Gi==
0
    0
      Breaking News

      Puluhan Guru dan Siswa SDN 2 Kute Diduga Keracunan Usai Acara ITDC, Kawal NTB Desak Tanggung Jawab dan Evaluasi Panitia

      Puluhan Guru dan Siswa SDN 2 Kute Diduga Keracunan Usai Acara ITDC, Kawal NTB Desak Tanggung Jawab dan Evaluasi Panitia

       Lombok Tengah – Reportase7.com
      Kegiatan Goes to School yang diselenggarakan di kawasan Mandalika mendadak menjadi sorotan setelah puluhan guru dan siswa SDN 2 Kute, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), dilaporkan mengalami gejala yang diduga mengarah pada keracunan makanan usai menyantap hidangan yang disediakan dalam acara tersebut.

      Makanan yang dikonsumsi para peserta disebut disiapkan oleh Bu Kus Catering berdasarkan pesanan penyelenggara. Namun, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para guru dan siswa tersebut masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan medis dan penelusuran oleh pihak berwenang.

      Berdasarkan informasi dari sumber di Puskesmas Kuta, sekitar 55 orang sempat mendapatkan penanganan medis. Sebagian di antaranya diperbolehkan pulang setelah mendapat pemeriksaan dan penanganan, sementara sejumlah korban masih membutuhkan pemantauan.

      Hingga pagi ini, tiga siswa dilaporkan masih menjalani perawatan intensif di Puskesmas setempat dan belum diperbolehkan pulang.

      Peristiwa tersebut memunculkan desakan agar pihak penyelenggara, termasuk InJourney Tourism Development Corporation (ITDC), segera mengambil langkah konkret untuk memastikan seluruh korban memperoleh penanganan medis yang memadai.

      Divisi Humas dan Kebijakan Publik Kawal NTB, Lalu Ahadi Wiraguna, meminta General Manager ITDC, Made Pari Wijaya, bersama penyelenggara kegiatan segera menunjukkan tanggung jawab atas insiden yang menimpa para guru dan siswa tersebut, Jumat 09 Oktober 2026.

      Menurutnya, kejadian ini harus menjadi perhatian serius, terlebih kegiatan berlangsung di kawasan pariwisata Mandalika yang dikenal sebagai destinasi bertaraf internasional.

      “Masak acara di kawasan pariwisata kelas internasional bisa sampai terjadi dugaan keracunan makanan seperti ini? Ini persoalan serius karena yang terdampak adalah guru dan anak-anak sekolah. Keselamatan peserta seharusnya menjadi prioritas utama,” tegas Ahadi.

      Ia menilai, tanggung jawab penyelenggara tidak cukup hanya dengan memberikan pernyataan, tetapi harus diwujudkan melalui pendampingan medis, pemantauan kondisi korban, serta komunikasi terbuka dengan pihak sekolah dan keluarga siswa.

      Ahadi secara khusus meminta ITDC melakukan pendampingan melekat terhadap seluruh siswa yang mengalami gangguan kesehatan, termasuk mereka yang telah diperbolehkan pulang atau menjalani rawat jalan.

      Menurutnya, jumlah korban yang dilaporkan sempat mendapatkan penanganan medis menuntut koordinasi yang serius agar tidak ada siswa yang luput dari pemantauan setelah kembali ke rumah.

      “Kami meminta ITDC memastikan seluruh korban mendapatkan pendampingan. Jangan sampai siswa yang sudah dipulangkan justru mengalami gejala lanjutan tanpa pemantauan yang memadai. Keselamatan anak-anak harus menjadi prioritas,” ujarnya.

      Selain meminta pertanggungjawaban, Kawal NTB mendesak ITDC menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada pihak sekolah, para guru, siswa, dan keluarga yang terdampak apabila hasil pemeriksaan mengonfirmasi adanya kelalaian dalam penyelenggaraan kegiatan.

      Kawal NTB juga meminta agar bantuan penanganan korban diberikan secara layak, disertai evaluasi menyeluruh terhadap prosedur penyediaan makanan, pemilihan jasa katering, serta pengawasan konsumsi dalam setiap kegiatan yang melibatkan masyarakat dan anak-anak.

      Ahadi bahkan menilai perlu adanya evaluasi terhadap kepemimpinan GM ITDC, Made Pari Wijaya, menyusul insiden tersebut.

      Ia melontarkan desakan agar Made Pari Wijaya mempertimbangkan pengunduran diri setelah gelaran MotoGP, sebagai bentuk pertanggungjawaban apabila evaluasi resmi nantinya menemukan kegagalan pengawasan yang menjadi tanggung jawab manajemen.

      Desakan tersebut merupakan sikap Kawal NTB dan bukan keputusan resmi mengenai jabatan GM ITDC.

      Desakan serupa disampaikan Lalu Gun. Ia meminta kepolisian segera menelusuri penyebab kejadian, termasuk memeriksa pihak penyedia makanan dan panitia penyelenggara apabila ditemukan dasar yang cukup untuk dilakukan pemeriksaan.

      Menurutnya, pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat persoalan dalam proses pengolahan, penyimpanan, distribusi, maupun penyajian makanan kepada para peserta.

      “Jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali. Polisi perlu menelusuri persoalan ini secara menyeluruh, termasuk meminta keterangan dari pihak katering dan panitia penyelenggara. Kita harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,” tegas Lalu Gun.

      Ia juga meminta agar sampel makanan, apabila masih tersedia, serta catatan penyediaan dan distribusi konsumsi ditelusuri oleh instansi berwenang untuk membantu memastikan penyebab gangguan kesehatan tersebut.

      Kawal NTB menegaskan, penanganan kasus ini harus mengutamakan keselamatan korban dan mengedepankan fakta, bukan saling melempar tanggung jawab.

      Sementara itu, GM ITDC Made Pari Wijaya, saat dikonfirmasi pada malam sebelumnya, mengaku sedang berada di Puskesmas Kuta untuk memantau kondisi para korban.

      “Saya di lokasi dan kita akan tanggung jawab. Saya masih cek kondisi dan korban,” ujarnya.

      Pernyataan tersebut menjadi langkah awal yang perlu ditindaklanjuti dengan penanganan nyata, pendampingan terhadap siswa yang terdampak, serta koordinasi dengan pihak sekolah, tenaga kesehatan, penyedia katering, dan instansi terkait.

      Hingga berita ini disusun, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para guru dan siswa belum dapat dipastikan. Karena itu, pemeriksaan medis dan penelusuran terhadap makanan yang disajikan menjadi penting untuk memastikan sumber kejadian sekaligus menentukan langkah tindak lanjut yang tepat.

      Kawal NTB berharap insiden ini menjadi bahan evaluasi serius bagi seluruh penyelenggara kegiatan di kawasan Mandalika. Bagi mereka, reputasi pariwisata internasional tidak hanya ditentukan oleh kemegahan acara, tetapi juga oleh standar keselamatan, kualitas pelayanan, dan perlindungan terhadap setiap peserta.

      Pewarta: Red
      Editor: R7 - 01

      Baca juga:

      Loading...
      Tambahkan komentar

      0 Komentar

      Tulis komentar
      Next Post
      Next Post

      Info

      Info
      • Jl. TGH Faisal No. 102 Turida, Mataram, NTB
      • +62 823 4177 7795
      • reportase7.com