TfW5GSCoTpOpTSY0BUC9TUC8Gi==
0
    0
      Breaking News

      Bappeda KSB Gandeng Amman Mineral, Garap Program Intervensi 29 Sekolah

      Bappeda KSB Gandeng Amman Mineral, Garap Program Intervensi 29 Sekolah

      Sumbawa Barat - Reportase7.com

      Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat bersama PT Amman Mineral Nusa Tenggara membahas hasil asesmen dan matriks prioritas intervensi terhadap 29 sekolah yang berada di Kecamatan Maluk, Kecamatan Sekongkang, dan Kecamatan Jereweh. Pembahasan tersebut berlangsung di Ruang Rapat I Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumbawa Barat, Rabu 02 September 2026.

      Pertemuan tersebut dihadiri oleh Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa Barat, Sekretaris Daerah, Kepala Bappeda, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa Barat, serta jajaran PT Amman Mineral Nusa Tenggara yang dipimpin oleh Dimas Pradyaka.

      Pembahasan difokuskan pada pemetaan kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan berdasarkan hasil asesmen awal yang telah dilakukan terhadap 29 sekolah. Hasil pemetaan tersebut menjadi bahan penting dalam menentukan jenis kebutuhan sekaligus menyusun skala prioritas intervensi pendidikan yang akan dilakukan pada tahun 2026.

      Berdasarkan hasil asesmen, kebutuhan ruang kelas menjadi isu paling dominan dengan persentase 72 persen. Selanjutnya, kebutuhan terhadap laboratorium dan perpustakaan mencapai 45 persen, sanitasi sebesar 41 persen, serta meja dan kursi belajar sebesar 34 persen. Sementara itu, sebanyak 12 persen kebutuhan lainnya berkaitan dengan infrastruktur pendukung sekolah, antara lain talud dan pagar.

      Data tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan intervensi tidak hanya berkaitan dengan peningkatan fasilitas pembelajaran, tetapi juga menyangkut aspek keselamatan, kelayakan bangunan, serta pemenuhan fasilitas dasar yang menunjang lingkungan belajar yang sehat dan aman.

      Dalam pembahasan, skala kebutuhan kemudian disusun berdasarkan tingkat prioritas. Keselamatan dan kelayakan ditempatkan sebagai prioritas pertama, khususnya untuk memastikan bangunan dan fasilitas sekolah berada dalam kondisi aman digunakan. Prioritas berikutnya adalah sanitasi dan air bersih, kemudian fasilitas pembelajaran, dan terakhir tata kelola pelaksanaan.

      Pendekatan berbasis skala prioritas tersebut diperlukan agar intervensi yang dilakukan dapat diarahkan pada kebutuhan yang paling mendesak dan memberikan dampak langsung terhadap keberlangsungan proses belajar mengajar. Dengan demikian, dukungan terhadap sekolah tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga pada penciptaan lingkungan pendidikan yang aman, sehat, dan mendukung kualitas pembelajar. 

      Dari hasil pembahasan, terdapat dua rekomendasi program utama yang menjadi perhatian, yakni Rehabilitasi Fisik Darurat dan Sanitasi dan Pembelajaran Sehat.

      Program Rehabilitasi Fisik Darurat diarahkan pada rekonstruksi struktural sekolah yang berada dalam kategori kerusakan berat. Program ini diprioritaskan untuk menjawab kebutuhan keselamatan dan kelayakan fasilitas pendidikan, sehingga peserta didik dan tenaga pendidik dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran dalam lingkungan yang lebih aman.

      Sementara itu, Program Sanitasi dan Pembelajaran Sehat diarahkan pada pemulihan ketersediaan air bersih serta renovasi toilet dengan standar higienis. Pemenuhan fasilitas sanitasi tersebut dipandang penting tidak hanya untuk mendukung kesehatan warga sekolah, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang ramah dan layak bagi anak.

      Intervensi tersebut memiliki keterkaitan dengan agenda pembangunan Kabupaten Sumbawa Barat dalam mendukung terwujudnya Kabupaten Layak Anak (KLA) serta pengembangan sekolah sehat. Ketersediaan air bersih, sanitasi yang layak, ruang belajar yang aman, dan fasilitas pembelajaran yang memadai merupakan bagian penting dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang mendukung tumbuh kembang peserta didik.

      Bagi Bappeda KSB, penyusunan matriks prioritas ini menjadi bagian dari proses memastikan agar intervensi pembangunan sektor pendidikan disusun berdasarkan data dan kebutuhan riil di lapangan. Hasil asesmen menjadi dasar untuk menentukan prioritas, sementara matriks intervensi menjadi instrumen untuk menyelaraskan kebutuhan tersebut dengan program yang dapat dilaksanakan secara bertahap.

      Kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat dan PT Amman Mineral Nusa Tenggara juga menjadi bagian penting dalam mendorong percepatan pemenuhan kebutuhan infrastruktur pendidikan di wilayah Maluk, Sekongkang, dan Jereweh. Sinergi tersebut diharapkan mampu memperkuat efektivitas intervensi serta menghindari pelaksanaan program yang tidak sesuai dengan tingkat kebutuhan masing-masing sekolah.

      Melalui pembahasan ini, hasil asesmen terhadap 29 sekolah diharapkan dapat ditindaklanjuti ke dalam program yang terukur, terarah, dan tepat sasaran. Dengan menempatkan keselamatan, sanitasi, dan kualitas fasilitas pembelajaran sebagai prioritas, intervensi yang dilakukan diharapkan tidak hanya menyelesaikan persoalan sarana dan prasarana, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas layanan pendidikan di Kabupaten Sumbawa Barat.

      Pada akhirnya, penyusunan matriks prioritas intervensi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat perencanaan pembangunan pendidikan yang berbasis kebutuhan, data, dan kolaborasi, sehingga setiap dukungan yang diberikan dapat memberikan manfaat yang lebih nyata bagi sekolah, peserta didik, tenaga pendidik, serta pembangunan sumber daya manusia Kabupaten Sumbawa Barat.

      Pewarta: Red
      Editor: R7 - 01

      Baca juga:

      Loading...
      Tambahkan komentar

      0 Komentar

      Tulis komentar
      Next Post
      Next Post
      Ads
      Ads
      Ads

      Info

      Info
      • Jl. TGH Faisal No. 102 Turida, Mataram, NTB
      • +62 823 4177 7795
      • reportase7.com