Berwisata di Kota Tua Ampenan, Berikut Beberapa Destinasi Wajib Anda Kunjungi

Mataram - Reportase7.com

Meskipun mencintai Ampenan dengan segala cerita sejarahnya, namun baru kemarin saya benar-benar merasakan denyut Ampenan dalam arti sesungguhnya.

Bersama dengan Pokdarwis Kota Tua Ampenan, kawan-kawan LHSS beserta beberapa mahasiswa Hubungan Internasional Unram, pada hari minggu, 19 November 2023 kami belusukan ke kampung-kampung yang ada di Ampenan.

Acara ini sebetulnya sebagai tindak lanjut dari rencana kami untuk menghadirkan sebuah paket wisata dengan konsep heritage walk, dan kegiatan kemarin adalah ihktiar kami untuk mapping beberapa titik yang akan dijadikan paket wisata. (28/12/2023)

Ampenan kami pilih sebagai pilot project dengan beberapa pertimbangan, salah satunya adalah keberadaan Ampenan sebagai kota bandar metropolitan pada abad ke 19, yang mana saat itu, Ampenan yang merupakan milik kerajaan Mataram Lombok menjadi tempat berkumpulnya beragam suku serta warga asing yang menetap serta berniaga.

Gerimis mengawali langkah kecil kami dari dermaga Ampenan menuju titik pertama yaitu muara sungai Jangkuk.

Pak Fendy Loekman  yang didaulat menjadi tour guide pada hari itu menerangkan, bahwa muara sungai Jangkuk merupakan saksi bisu tentang pendaratan pasukan Belanda saat menginvansi pulau Lombok pada tanggal 5 Juli 1894.

Di sisi selatan dari sungai Jangkuk inilah 110 perwira, 2300 prajurit dan 2000 narapida yang diangkut dengan kapal perang mendarat dan mulai mengancam kerajaan Mataram dengan memberikan 3 ultimatum.

Kelak, sejarah mencatat hanya berselang 4 bulan sejak pendaratan Belanda di sungai Jangkuk ini, kerajaan Mataram takluk terhadap Belanda.

Usai membayangkan rupa serdadu Belanda yang riuh di sekitar sungai Jangkuk, rombongan kemudian memasuki jalan kampung Melayu, deretan rumah yang berhimpitan serta sibuknya aktivitas warga menjadi pemandangan yang kami saksikan.

Tepat di tengah kampung Melayu, pak Fendy berhenti, ia kemudian menceritakan bahwa dulunya tempat ini adalah lokasi dari kandang sapi.

Kandang sapi yang dimaksud adalah tempat penampungan sementara dari sapi-sapi Lombok yang akan dieksport ke Singapura dan Hongkong.

Mengenai eksport sapi Lombok ke Singapura dan Hongkong ini memang benar adanya, beberapa catatan terang benderang menyebut bahwa salah satu barang ekport Lombok ke luar negeri pada abad ke 19 adalah sapi.

Satu profesi yang cukup populer saat masa keemasan eksport sapi ini adalah Kleder, yaitu orang yang mengurus segala kebutuhan sapi saat berada di atas kapal, dan satu nama Kleder yang cukup populer adalah Ncek Muhamad, ia pada kurun 1940 an sampai dengan 1980 an adalah Kleder kawakan yang karena profesinya ini paling tidak dua kali dalam setahun ia menginjakan kakinya di Hongkong.

Puas dengan cerita sapi dan Kleder, kami kemudian beranjak ke hotel Tiga Emas, hotel pertama yang ada di Ampenan dan Lombok.

Bentuk hotel itu masih sama dengan aslinya, kamar-kamarnya pun masih berfungsi sebagai mana mestinya, hanya saja, hotel itu sudah menjadi rumah pribadi, tidak disewakan lagi.

Di samping hotel Tiga Emas, terdapat sebuah sekolah Islam, namanya Madrasah al-Ittihadul Islamiyah, madrasah ini didirikan pada tahun 1930 oleh Saleh Harharah sehingga sekolah ini sering disebut sekolah Arab. Sekolah ini disebut-sebut sebagai sekolah Islam pertama di Lombok.

Usai berfoto di depan Madrasah al-Ittihadul Islamiyah, kami kemudian menuju sebuah gudang tua yang bernama Gudang Hookie, melihat bentuk gudang ini, saya langsung mengenang saat Ampenan pada tahun 1846 pernah mengekport beras sebanyak 16.000 ton, paling banyak ke Manila dan China.

Ya, beras adalah komoditas utama yang diperdagangkan di Ampenan, bahkan pada tahun 1880, dari 39 bandar resmi yang ada di Ampenan, 13 orang diantaranya adalah bandar beras, dan bisa jadi, pemilik gudang Hookie ini adalah salah satunya.

Rombongan kemudian bergerak ke arah bekas perkampungan Kristen, lokasinya masih berada di kampung Melayu. Menurut literatur, sebelum makam-makam Belanda ada di pekuburan Kapitan saat ini, awalnya makam orang Kristen dan Belanda banyak di tempat ini, barulah saat penduduk mulai banyak, makam-makam itu dipindahkan ke Kapitan.

Selanjutnya, kami melangkah ke SDN 11 Ampenan yang terletak di samping sungai Jangkuk, kenapa kami mesti datang ke tempat ini?

Bangunan SDN 11 Ampenan itu masih menampakan keaslianya, sebuah bangunan dengan gaya kolonial, pintu yang tinggi, ventilasi udara dengan gaya Tionghoa serta tepat di tengah bangunan, terdapat aula yang cukup luas.

Bangunan itu sejatinya adalah sekolah Tionghoa pertama di Ampenan, didirikan pada tahun 1929 oleh yayasan Tiong Hoa Hwee Koan (THHK).

THHK sendiri merupakan organisasi para perantau Tionghoa di Hindia Belanda, berdiri di Batavia pada 17 Maret 1900.

Pada buku Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia yang ditulis Drs Sam Setyautama, tertulis nama Lie Tjhoen Ming yang disebut pernah mengajar di sekolah THHK Ampenan.

Dahulunya bangunan sekolah THHK ini meliputi gedung SMPN 3 Ampenan yang sekarang, dan bangunan yang tersisa adalah ruang kelas dari SDN 11 Ampenan yang sekarang.

Puas melamunkan siswa etnis Tionghoa yang sedang belajar, kami kemudian menyusuri bantaran kali Jangkuk yang berbatasan langsung dengan pasar ikan ACC Ampenan.

Pada sebuah tempat yang menampakan dinding tembok cukup tinggi dan terlihat tua, tour guide memberhentikan kami.

Pak Fendy Loekman  kemudian menerangkan bahwa tembok yang sedang kita saksikan ini adalah tembok pabrik Sun An, sebuah pabrik yang pada masa jayanya pernah memproduksi minyak goreng dengan merk Sun An atau di pasaran terkenal dengan nama Sumber Ampenan.

Di samping pabrik Sun An terdapat pabrik sabun dan di seberang sebelah selatan sungai Jangkuk terdapat pabrik yang menolak punah, sebuah pabrik yang namanya telah melegenda di dunia perkecapan, betul, tidak salah lagi, itulah pabrik kecap Wi Shin, sebuah pabrik yang sampai dengan saat ini masih beroperasi.

Saat memegang tembok tinggi nan hitam pabrik Sun An, saya benar-benar merasakan bagaimana suasana pabrik saat itu, bau keringat para buruh, aroma bahan baku yang siap diolah, suara perkakas kerja yang berisik serta bau asap yang mengepul dari cerobong pabrik.

Tidak lupa saya juga membayangkan gerombolan para buruh yang pulang bekerja di sore hari, sebuah sore yang temaram, sore yang dinikmati dengan menghisap rokok merk Kuda Putih, kepulan asap menyambar badan buruh yang berpeluh keringat, ah, betapa nikmatnya suasana itu.

Pabrik-pabrik di Ampenan ini mulai muncul sejak Belanda mulai mengambil alih pengelolaan Ampenan pada tahun 1895, pada masa itulah Ampenan tumbuh sebagai kota pelabuhan bercorak industri, sempat diambil alih Jepang pada tahun 1942, pabrik-pabrik ini kemudian timbul tenggelam.

Kaki kami kemudian melangkah ke Taman Jangkar, inilah tempat legendaris pada masanya, tempat yang menjadi titik pertemuan dan perpisahan, sebuah tempat yang akan selalu dikenang sebagai Stanplat Ampenan.

Stanplat Ampenan ini adalah terminal bus yang siap membawa penumpang ke segenap penjuru pulau Lombok, bus yang terkenal saat itu adalah bus ABAD singkatan dari Ali Bin Ali Djaber.

Keriuhan Stanplat Ampenan mulai pudar sejak pelabuhan Ampenan ditutup pada tahun 1977, sejak saat itu, kejayaan Stanplat Ampenan mulai menghilang.

Di sekitar Taman Jangkar ini, kami juga ditunjukan beberapa objek bersejarah lainya, sebut saja bekas pabrik rokok Kuda Putih serta gardu listrik pertama di Lombok.

Mengenai gardu listrik ini, bangunanya masih nampak asli, tidak ada perubahan sejak pertama kali dibangun oleh EBALOM pada tahun 1930.

EBALOM sendiri adalah singakatan dari Electricities Maatschappij Bali en Lombok yang merupakan anak perusahaan listrik Hindia Belanda yang bernama ANIEM (Algemeene Nederlandsche Indische Electriciteit Maatschappij).

EBALOM mempunyai wilayah kerja yang meliputi Ampenan, Klungkung, Tabanan, Singaraja, Tabanan, Denpasar, Ternate dan Gorontalo.

Usai berfoto di gardu listrik EBALOM, kami kemudian bergeser ke gedung Hookian Kong Hwee, sebuah gedung tua yang dahulunya merupakan tempat pertemuan etnis Tionghoa dari suku Hokkian.

Geser ke arah barat dari gedung Hookian Kong Hwee terdapat satu bangunan yang dahulunya merupakan tempat persidangan khusus warga etnis Tionghoa.

Dari simpang lima Ampenan, kami sekilas mengenang kejayaan bioskop Ramayana, bioskop yang hampir semua warga Ampenan tempo dulu punya kenangan atas keberadaanya.

Masuk jalan Pabean, nuansa Pecinan kian terasa, deretan rumah makan dan kuliner khas Tionghoa semakin menjadi, ada toko roti Djitsin, bubur ayam Jakarta, rumah makan Manalagi, dan tepat di sebelah kiri, nampak warung soto legendaris yang bernama Soto Sicang.

Niat awal sesuai itenerary paket, para peserta heritage walk akan makan siang di Soto Sicang ini, tapi sayang, soto sudah keburu habis, pemburu kuliner perpaduan Sasak dan Tionghoa ini memang sangat fanatik, tidak sampai jam 10 pagi, soto sudah ludes.


Kami kemudian mampir ke klenteng Po Kwa Kong, sebuah kelenteng yang sudah ada sejak tahun 1840 an, meskipun mungil, namun, keanggunan tempat ibadah umat Budha ini tidak bisa disembunyikan.

Keberadaan kawasan Pecinan di Ampenan ini memang tidak bisa dilepaskan dari sejarah keberadaan etnis Tionghoa di Ampenan. Keberadaan mereka telah ada sejak jaman kerajaan Mataram Lombok masih eksis.

Laporan Zollinger yang berkunjung ke Lombok pada 1846, menyebut, pada tahun itu, jumlah etnis Tionghoa di Ampenan masih sekitar 12 orang saja, barulah saat Ampenan menjelma menjadi pelabuhan internasional pada sekitar tahun 1850 an etnis Tionghoa mulai memenuhi Ampenan.

Profesi mereka kebanyakan adalah sebagai pedagang dan bandar resmi raja Mataram, salah satu bandar yang terkenal cukup kaya adalah Boping, ia bersama dengan bandar Bugis yang bernama Oewaslea termasuk bandar terkaya di Ampenan pada tahun 1856.

Orang dari etnis Tionghoa yang berprofesi sebagai bandar ini menjalin hubungan yang erat dengan penguasa, karena hubungan yang baik inilah, mereka mendapat kemudahan dalam berbagai hal, terutama dalam hal monopoli perdagangan pada jenis barang tertentu, khususnya beras.

Ketika Lombok mulai dikuasai Belanda pada tahun 1894, keberadaan etnis Tionghoa di Ampenan tetap eksis, lebih-lebih dalam strata sosial atau hukum Regerings Reglement yang diciptakan Belanda, etnis Tionghoa menempati golongan kedua, lebih tinggi dari golongan pribumi.

Puas dengan kisah Pecinan, kami kemudian mengakhiri perjalanan dengan mengunjungi menara mercusuar di tepi pantai Ampenan yang kemudian ditutup dengan makan siang di warung PKL Ampenan.

Total waktu perjalanan dari titik kumpul sampai dengan destinasi terakhir adalah 2 jam, waktu yang pas dan cukup untuk belusukan ke jalan-jalan dan tempat-tempat bersejarah kota Ampenan.

Special shout out to:
Fendy Loekman Ali Lombok